Pages

Labels

Tuesday, 8 May 2018

TERDUDUK

Di suatu waktu.
Engkau akan menemukanku terduduk di sebuah jalan setapak.
Jalan yang sepi dan telah lama tidak pernah kau lalui.
Menatap kosong jalan ramai di seberangnya.
Jalan penuh kebisingan.
Penuh keriuhan pesta.
Penuh keriuhan hura-hura.
Penuh tertawa dan kehagiaan.
Penuh sesak oleh orang-orang.
Kau di situ.

Kau menjadi salah satu yang harus masuk dan masuk terus dalam pesta.
Meninggalkan dirimu  yang mencintai jalan sepi ini.
Meninggalkan aku dan katamu akan kembali.

Aku hanya berharap kau terduduk di jalan ramai di sana.
Menatap ke seberang seperti aku.
Menemukan diriku telah menua dan sepi.
Menemukan diriku berharap kau untuk melalui jalan ini lagi.

Aku takut kau tidak mencintai lagi kesepian.
Benar-benar meninggalkan dirimu di ujung jalan sepi.
Lantas tak ingin kembali.

Aku duduk menanti.
Berhentilah dari keriuhan.
Atau keriuhan akan memakan dirimu.
Lagi.
Lagi,

Samarinda, 9 Mei 2018

 

Monday, 9 April 2018

Kenapa Engkau Mencintaiku?

“Kenapa kamu mencintaiku?”

Pertanyaan itu meluncur pelan dari bibirnya. Ketika kami menghabiskan malam di taman kota, duduk di atas sebuah kursi, berdua.

Saya kaku, binggung tak paham. Seseorang pernah bilang kepada saya. Cinta bukan sesuatu yang harus dicari alasannya, tapi cinta itu dijalani. Namun, saya juga tahu, asap tak mungkin tanpa api. Begitu pun mencintainya, saya rasa pasti ada alasan. Saya mencari di kepala, tak ketemu. Sesuatu yang dekat denganya, itulah yang saya ungkapkan.

“Karena kamu sederhana.”

Terlalu klise menurutnya. Sudah banyak orang bilang seperti itu padanya. Saya sendiri binggung, apakah itu alasan tepatnya? Saya yakin, kalau ia bertanya lagi hal yang sama, alasan saya, pasti akan berubah. Tergantung yang muncul di kepala saja.

“Karena kamu cantik.”

“Karena kamu lucu.”

“Karena kamu beda.”

Semua alasan yang coba saya kumpulkan. Saya rasa terlalu sederhana. Saya rasa bukan itu yang membuat saya bertahan dan tidak ingin melepaskannya. Bukan itu alasan yang membuat saya ingin selalu ada di sekitarnya. Bukan itu.

Jawaban-jawaban itu akan bisa dipatahkannya dengan bilang, “Kalau ada yang lebih sederhana daripada aku. Kamu bakal mencintainya dong?”

Lalu saya diam. Jawaban saya tidak jujur. Karena saya tidak punya alasan yang tepat. Segitu yang bisa saya pahami.

*

Saya membeli sebuah buku. Erich Fromm dengan judul The Art of Loving. Ya, saya membeli yang bahasa Indonesia. Seni mencintai. Saya hanya berharap dari buku itu, saya menemukan alasan kenapa saya ingin bertahan dengannya. Kenapa saya begitu mencintainya.

Tapi nihil. Sinopsis buku itu benar. Saya tidak akan menemukan arti cinta yang sederhana. Arti cinta yang bisa saya pakai untuk menjawab pertanyaan singkatnya.

Satu-satunya yang bisa saya ambil dari buku itu adalah cinta itu tumbuh dari perasaan seseorang yang selama ini merasa teralienasi dari sekitar. Ia merasa tidak sama dengan orang-orang di sekitar, dan ketika dia telah bertemu dengan orang yang sama, maka mereka berdua akan masuk ke teralienasian mereka berdua dan itulah cinta.

Apakah saya salah tafsir tentang buku itu. Tapi buku itu tidak menjawab sama sekali persoalan yang timbul. Saya bahkan pernah bilang padanya.

“Aku enggak punya alasan untuk menjawab kenapa aku mencintaimu. Bahkan buku yang kubeli tidak membantu.”

Kemudian dia tersenyum dan menjawab dengan renyahnya.

“Sudah, kadang kita tidak perlu terlalu teoritis.”

Saya rasa, permasalahan tentang alasan mencintainya ini selesai.

*

Saya telah merasa begitu banyak mencintai orang. Sampai akhirnya bertemu dengannya dan saya merasa tidak ingin mencari yang lain.

Sepanjang ini, saya merasa sudah memahami arti mencintai seseorang. Menjalani sesuatu yang disebut hubungan. Tapi nyatanya tidak. Cinta saya belum dewasa. Ia tidak tumbuh dengan wajar dan merasa sombong. Cinta saya sudah seperti memahami banyak hal dan hari ini ia kenak batunya.

Sesuatu kembali mengajarkan saya tentang cinta. Bahkan perselisihan tidak akan pernah musnah dari hubungan cinta. Bahkan mungkin hubungan manusia.

Cinta adalah hubungan dua orang manusia. Wajar bila rasanya ada ketidaksepahaman dan akhirnya bertengkar. Saya rasa, perselisihan dua orang tidak akan pernah lagi terjadi, sampai akhirnya salah satu diantaranya masuk ke liang lahat. Sepanjang itu, pertengkaran adalah sesuatu yang tidak bisa dihindarkan. Tapi pertengkaran adalah sesuatu yang harus dilewati, karena ia menguatkan.

Begitulah yang bisa saya lakukan lewat tulisan ini dan yang bisa saya pahami untuk lebih memahami soal cinta.

Tapi, ada yang kembali terucap olehnya sore ini. Ketika kami memutuskan untuk saling mengalah, meminta maaf dan memaafkan. Ia berucap sesuatu.

“Kenapa kamu sampai begitunya ingin bertahan? Kenapa kamu ingin mencintaiku? Kenapa kamu tidak menyerah?”

Beda narasi, tapi intinya sama. Ia kembali bertanya soal alasan saya mencintainya. Sudah adakah saya jawabannya? Saya masih belum ketemu. Saya menjawab dengan asal.

“Karena ketika bersamamu, aku merasa tenang.”

Lantas, ia kembali memotongnya.

“Gampang pantah. Berarti kalau ada yang lebih menenangkan, kamu bakal sama dia?”

Saya terdiam. Mencoba untuk mencari alasan tentang mencintainya. Saya tahu tidak ingin melepasnya. Tapi saya tidak tahu kenapa saya melakukan itu. Saya berusaha tenang dan menjawabnya.

Saya tahu.

Saya merasa sendiri selama ini. Banyak hal yang saya lakukan sendiri di ruang kesendirian. Tapi lama, saya rasa, saya harus punya teman di ruang sendiri saya ini. Saya tidak bisa sendirian. Harus ada teman, harus ada tempat berbagi ruang kesendirian berdua.

Maka, bagian buku tentang pencarian cinta saya, dimulai. Banyak orang yang saya ajak untuk berbagi ruang kesendirian, tidak ingin. Ketika saya ingin berbagi dengannya, dia tak ingin. Tak mungkin dipaksa. Saya mencari lagi. Bertemu banyak orang yang saya harapkan bisa berbagi ruang dengannya. Ada yang ingin berbagi lalu pergi, tapi ada juga yang bahkan tidak ingin sama sekali berbagi. Wajar. Namanya juga petualangan.

Lantas saya bertemu dengannya. Seseorang yang saya cintai sejak lambaian tangan pertamanya. Lambaian yang memanggil saya untuk mendekat karena ada tanggung jawab tugas yang harus kami selesaikan berdua. Moment itu yang mempertemukan kita dan akhirnya  memperkenalkan kita.

Sejak itu, saya tahu. Saya ingin bisa berbagi ruang dengannya. Saya merasa menemukan diri saya dan utuh ketika berbicara dan dekat dengannya. Perjalanan untuk memintanya berbagi ruang kesendirian bersama saya, begitu panjang. Sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk mau berbagi ruang kesendirian berdua.

Saat itu. Saya merasa perjalanan saya sudah selesai. Saya mengibaratkan diri saya sebagai sebuah buku novel. BAB tentang pencarian cinta saya sudah berakhir dan endingnya, saya ingin bersamanya. Saya rasa, bagian buku saya soal cinta, sudah ingin saya akhiri.

Saya sudah ketemu. Lagi pula saya sudah letih.

Saya harus menjalani bagian buku lain dari diri saya. Tentang cinta sudah dengannya. Sekarang tentang kehidupan. Lantas, mungkin itu alasan saya tidak ingin melepasnya. Karena saya tahu bahwa bagian buku saya tentang kehidupan harus saya jalani bersamanya.

Saya tidak punya alasan untuk mencintanya. Tapi saya tahu, saya harus menjalani sisa perjalanan dengannya. Bila ada sesuatu yang harus memisahkan sementara, saya ingin hanya nyawa. Bukan ego, bukan ambisi, bukan cinta yang lain atau hal-hal lainnya.

Hidup terlalu berat jika terus-terusan saya habiskan untuk BAB tentang cinta. Saya punya BAB-BAB lainnya dalam diri saya.

Entah. Apakah itu bisa menjadi sesuatu yang dapat dipegangnya. Tapi saya merasa tenang, ketika akhirnya ia memanggil nama saya sore itu dengan lembut. Kemudian menarik nafas panjang dan akhirnya meminta maaf. Kemudian ia berucap.

“Lekaslah! Aku tidak ingin hal-hal seperti ini terjadi lagi.”

Aku tersenyum.

Aku sadar. Pikiran dan diri kami mungkin sudah dewasa. Tapi cinta kami berdua, mungkin sedang pelan-pelan bersama, berdua, mendewasa.

*

Jangan lelah. Jangan bosan. Jangan menyerah.

Sama-sama bersama sama-sama.

---Malhira

Thursday, 28 December 2017

Desember yang Hebat dari Pertemuan yang Hebat

Bulan Desember tahun ini benar-benar menjadi sesuatu yang sangat luar biasa untuk hidup saya. Ada banyak tantangan yang saya ambil. Semuanya, tentu menguras tenaga, juga pikiran.
Terbiasa dengan situasi santai, membuat saya sadar ada sesuatu yang berjalan lamban dalam hidup. Tidak ada sesuatu yang saya kejar. Tidak ada motivasi yang muncul. Bahkan, kebanyakan gundah yang membebani.
Tapi, pertemuan itu adalah sesuatu yang saya syukuri dan mengubah banyak hal.

Malam ini, saya tersenyum kecil dengan catatan ringan dari seorang wanita di dalam blog-nya. Catatan yang pernah saya baca beberapa bulan lalu, ketika pertama kali berkenalan dengan sosoknya. Sampai hari ini ia masih tidak tahu. Catatan yang memuat namanya, tanggal lahirnya, juga tentang cita-citanya bisa mengelilingi Eropa. Entah sudah banyak kali saya ulang membacanya.

Wanita luar biasa.
Wanita yang tidak ingin kalah.
Wanita yang membukti.
Begitulah yang bisa saya tangkap setelah akhirnya saya bisa mengenal dirinya tidak hanya lewat tulisan.

Hal-hal yang terjadi di bulan Desember ini, adalah sesuatu yang terjadi akibat pertemuan kami. Saya rasa, pertemuan kami adalah pertemuan yang hebat. Pertemuan yang memang seharusnya dipertemukan. Banyak hal-hal kebetulan yang mengiringi pertemuan kami. Serta, semakin banyak yang kebetulan itulah yang membuat saya merasa bahwa ada sesuatu yang perlu kami syukuri dari pertemuan ini.
Mungkin pertemuan itu, salah satunya adalah untuk bulan Desember yang hebat ini.

Sudah 3 tahun. Sebentar lagi, saya akan mengakhiri studi saya di perguruan tinggi. Terlepas apakah setelah ini akan berlanjut ke jenjang berikutnya atau tidak. Tapi lulus dari tempat ini, mungkin akan sedikit lebih dekat dengan mata. Tepat di tanggal 22 Desember 2017. Saya melakukan seminar proposal yang hebat itu. Seminar yang tadinya saya pikir tidak akan pernah tercapai karena kesibukan yang begitu padat, tapi akhirnya terlaksana juga.
Mondar-mandir saya ke akademik, ke kantor dosen, hanya untuk menyesuaikan jadwal yang mepet karena ujian, membuat saya hampir menyerah. Tapi wanita yang hebat itulah yang mendorong. “Emang harus dipaksa, kalau nggak gitu, nggak bakal bisa cepet. Usaha dulu.” Katanya, Membuat saya tahu. Belum waktunya menyerah.
Sampai tiba di tanggal yang akan terus saya ingat itu. Semalaman saya tidak tenang. Bolak-balik kaca hanya untuk menghafal tiap kata per kata materi yang akan saya sajikan ke dosen-dosen hari esoknya. Ia tersenyum esoknya, “Sudah siap?” Aku hanya bisa menjawab dengan senyum. Lalu aku masuk ke ruangan dengan yakin. Ada banyak orang yang mendoakan di luar sana untuk keberhasilan. Orang tua, teman-teman, serta tentu saja wanita yang tersenyum sebelum saya masuk ruangan tadi.
Luar biasa. Sampai saat saya menulis tulisan ini. Saya masih tidak percaya saya bisa melewati seminar itu dengan mudah. Tentu ini belum selesai, tapi sampai sini. Saya sudah benar-benar bersyukur. Dengan nilai yang tidak kecil tentu saja.
Selepas hal luar biasa yang ada di dalam ruangan itu. Saya bertemu lagi dengannya. Tepat duduk di sampingnya, saya menarik nafas panjang, menghembuskan dan lalu saya bilang. “Selesai satu.”
“Besok ada lagi.” Sembari tersenyum, membuat keindahan hari itu menjadi lengkap.

Benar, tepat di tanggal 23 Desember 2017. Satu lagi, hal yang tidak akan pernah saya lupa, terjadi. Peluncuran buku kumpulan cerpen Demam di Kota Zeyn. Buku tipis, yang menguras banyak emosi, tenaga, juga pikiran. Buku tipis yang kehadirannya disertai banyak sekali memori-memori yang sulit saya lupa. Buku tipis yang pertama kali hadir, karena wacana saya dengan wanita hebat itu.
Merealisasikan buku dan acara peluncuran itu juga sebenarnya menjadi salah satu bukti betapa saya sangat mensyukuri pertemuan kami. Buku itu, memang yang menulis saya. Tapi, semangat dari buku itu adalah semangat kami berdua. Melihatnya lahir, seperti melihat angan-angan yang tidak pernah kami bayangkan akan benar-benar terwujud.
Terlebih acara peluncurannya. Saya mencoba membayang-bayangkan bila saya tidak bertemu dengan wanita hebat ini. Apakah kiranya saya bisa berhasil? Mungkin wacananya terlempar. Tapi realisasinya yang agak saya khawatirkan.
Banyak hal yang hampir membuat saya mengurungkan niat untuk benar-benar serius dengan karya terbaru saya. Membuatkan peluncuran? Wah, itu hal yang luar biasa. Jika saya sendiri, pasti akan kembali goyah di tengah perjalanan, dan mungkin membatalkan.
Tapi wanita hebat itu menjaganya. Kadang saya ingin menyerah. Tapi ketika melihat wanita hebat ini, saya jadi malu menyerah. Ia wanita tangguh. Banyak hal yang tidak ingin ia selesaikan dengan kata menyerah. Lalu mengapa saya menyerah? Terlebih ia selalu bilang. “Bismillah. Pasti bisa.” Membuat saya tahu, bahwa saya mampu.
Nyatanya. Meski dengan tertatih-tatih. Kami bersama-sama (tentu dengan bantuan teman-teman lainnya) tanggal 23 Desember 2017 dapat saya laksanakan. Peluncuran berjalan indah. Meski sederhana, tapi rasanya semua menakjubkan. Bahkan ketika saya duduk di atas panggung. Berbicara mengenai karya saya. Saya masih hafal bagaimana tatapan semua penikmat malam itu.
Saya mungkin sendiri di atas panggung malam itu untuk membicarakan buku saya. Penonton mungkin melihat saya sendiri malam itu. Tapi sejujurnya tidak. Saya di atas sana, ditemani oleh semangat dari wanita hebat itu. Wanita yang malam itu duduk pula di antara para penonton. Setia, ia menemani.

Selepas semua terlaksana. Rasanya ringan. Saya kembali duduk di sebelah wanita hebat itu dan saya menarik nafas panjang untuk kemudian saya hembuskan dan bilang. “Akhirnya, semua selesai.” Lalu ia hanya tersenyum kecil menampakkan lesung pipi yang akan terus saya ingat.

Malam ini, ada hal yang mendewasakan kami.
Ada hal yang membuat kami tahu bahwa kelak, akan lebih banyak lagi hal yang akan kami hadapi. Kami sadar bahwa akan ada pelajaran yang perlu kami gali.

Malam ini juga kami tahu. Sebegitu keras hal-hal itu datang. Tepat pukul sebelum tidur. Kami harus memaaf. Tidak akan ada hal yang bisa kita selesaikan dengan pikiran-pikiran jahat.
Harus selalu ada kelembutan yang dimiliki kata maaf dan tetap harus selalu kami pegang.

Saya kembali bersyukur. Saya bertemu dengan orang yang tepat. Orang yang paham benar tentang ambisiusnya saya. Orang yang paham benar bagaimana paramater emosi saya. Orang yang punya senyum terlalu membekas di ingatan.

Satu hal yang ingin saya sampaikan.

Kepada wanita hebat yang saya panggil Niwa. Terima kasih.
Tetaplah. Menetaplah. Yakinlah.

#PANTANGKALAH
28 Desember 2017